INOVASI DOSEN DAN TIM PKM MAHASISWA KIMIA UNIVERSITAS JAMBI MENGHASIKAN SALEP LUKA BAKAR DARI KULIT IKAN NILA

Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar tentang ikan nila? Ikan nila bakar? Ikan nila saus? Sop ikan nila? Dan menu-menu ikan nila lainnya? Hehehe, Ikan nila memang dikenal dengan rasanya yang enak dengan kulit yang tebal dan gurih serta mengandung banyak sekali manfaat yang baik ketika dikonsumsi. Tapi tahukah kalian kalau kulitnya dapat dijadikan sebagai solusi untuk mengatasi luka bakar?

Yup, kalian nggak salah baca kok. Kulit ikan nila telah dilaporkan mengandung kadar protein 47,43%, air 23,4%, lemak 1,68%, abu 3,01%, memiliki kelembaban, kolagen dan ketahanan penyakit pada tingkat yang sebanding dengan kulit manusia, sehingga dapat membantu penyembuhan luka tak terkecuali luka bakar sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku pembuatan salep obat luka bakar.

Luka bakar sendiri dapat menstimulus rasa trauma dan diketahui luka bakar merupakan penyebab kematian ketiga akibat kecelakaan pada semua kelompok umur di dunia. Menurut data dari World Health Organization tahun 2012, luka bakar merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius di seluruh dunia. Seiring berjalannya waktu, para peneliti mulai mencari alternatif untuk pengobatan luka bakar secara alami yang juga tak luput dari perhatian para peneliti muda di kalangan mahasiswa.

Romy Triadi Nugroho, Gilang Saputra, Annisa Nurul Aini, dan Aisha Andini Indira Dewi yang merupakan empat orang mahasiswa program studi Kimia Universitas Jambi menunjukkan ketertarikan dan kepedulian mereka terkait permasalahan tersebut melalui inovasi riset yang berjudul, Formulasi Optimum dan Uji Efektivitas Salep Ekstrak Kolagen Kulit Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dalam Penyembuhan Luka Bakar yang berada di bawah bimbingan Dosen Kimia Divisi Organik dan Biokimia, Indra Lasmana Tarigan, S. Pd., M. Sc.

Romy, Gilang, Annisa, dan juga Aisha mengakui bahwa riset tersebut tercetus karena pada saat itu tersebar berita mengenai kebakaran hutan besar di Australia yang menyebabkan banyak hewan mengalami luka bakar yang parah dan kulit ikan digunakan sebagai salah satu solusi alternatif pengobatan luka bakar bagi hewan-hewan yang cedera. Mereka pun mulai melakukan studi literatur dan mendapatkan banyak sekali potensial yang terdapat pada kulit ikan, salah satunya kulit ikan nila yang memiliki kandungan kolagen dengan nilai antioksidan yang tinggi sehingga sangat bagus untuk mengobati luka, tak terkecuali luka bakar. Sehingga mereka memutuskan untuk melakukan riset lebih jauh terkait potensi kolagen yang berasal dari kulit ikan nila dalam pengobatan luka bakar.

Dalam pelaksanaannya, riset ini juga dilakukan pengujian langsung kepada 28 ekor mencit jantan berusia 4 minggu sebagai hewan uji. Dilakukan pembuatan luka bakar pada mencit dan pengobatan dengan pemberian salep yang telah diformulasikan secara rutin selama ± 14 hari. Pada riset ini, digunakan 5 buah formulasi salep termasuk ekstrak kolagen yang dikombinasikan dengan ekstrak daun miyana yang juga kaya akan antioksidan; ekstrak kolagen 5% (F1), ekstrak kolagen 10% (F2), ekstrak kolagen 15% (F3), ekstrak kolagen 5% + ekstrak miyana 5% (F4), dan ekstrak kolagen 10% + ekstrak miyana 10% (F5). Digunakan obat luka bakar komersil Bioplacenton sebagai kontrol positif. Salep yang telah selesai diformulasi selanjutnya dilakukan uji parameter fisik salep sebelum diuji efektivitasnya terhadap mencit.

Hasil yang didapatkan yaitu berupa formulasi salep F3 dengan kandungan ekstrak kolagen sebesar 15% lebih cepat mengobati dan menutup luka bakar pada mencit dalam waktu 13 hari dengan diameter luka hanya 0,11 cm tanpa menunjukkan tanda-tanda infeksi seperti luka berwarna merah, melepuh, ataupun terjadinya pembengkakan selama pengobatan berlangsung, dimana diameter luka dari pengobatan formulasi salep F3 ini lebih kecil jika dibandingkan dengan kontrol positif bioplacenton yang memiliki sisa diameter luka 0,15 cm dalam waktu pengobatan yang juga selama 13 hari. Selain itu, formulasi salep F3 juga memiliki nilai uji parameter fisik yang lebih baik jika dibandingkan dengan kontrol positif, kontrol negatif, dan juga 4 formulasi lainnya.

 

Riset ini telah berhasil menorehkan prestasi di tingkat Nasional melalui ajang Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2021 di bidang PKM-RE (Riset Eksakta) dan ikut bersaing bersama tim lain dari berbagai universitas diseluruh Indonesia. Berkat hal tersebut, riset ini memiliki kesempatan untuk dibiayai langsung oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (DITJEN DIKTIRISTEK) melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (BELMAWA).

Riset ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi permasalahan dimana bahan baku kolagen yang berasal dari ikan lebih dapat diterima produksinya oleh masyarakat luas ketimbang kolagen yang berasal dari sapi ataupun babi yang tidak dapat digunakan oleh beberapa kalangan masyarakat yang tentunya dengan harga yang lebih terjangkau. Produksi ikan nila yang diprediksi akan terus mengalami peningkatan pun membuat kita tidak perlu khawatir akan keterbatasan bahan baku dalam pembuatan kolagen. Pemanfaatan limbah kulit ikan nila sebagai alternatif bahan baku pembuatan kolagen yang salah satunya akan digunakan dalam produksi pembuatan salep luka bakar ini sendiri juga diharapkan dapat meningkatan nilai tambah limbah industri perikanan dan mengurangi dampak negatif berupa pencemaran lingkungan. Tim ini juga menyampaikan bahwa tiap data hasil dari riset ini akan digunakan untuk dilanjutkan ke tingkat selanjutnya dan ke beberapa indikator juga parameter, seperti tahap uji klinis lebih lanjut hingga produksi produk hasil riset dalam skala besar sehingga manfaat dari hasil penelitian ini juga dapat dirasakan tidak hanya oleh tim peneliti, tapi juga oleh masyarakat luas

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *